Selasa, 17 Agustus 2010

PEMANFAATAN SERASAH DAUN

BAB I

PENDAHULUAN



    1. Latar Belakang

Dewasa ini lingkungan sekitar mulai kebingungan mencari solusi dalam mengurangi volume sampah yang ada di sekitar kita. Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh sampahyang semakin menumpuk. Hal-hal yang telah dilakukan antara lain yaitu pemanfaatan sampah dedaunan untuk pupuk kompos, penggunaan kertas-kertas sebagai bahan daur ulang relokasi atau penambahan lokasi tempat pembuangan sampah akhir ( TPA ), dan masih banyak usaha-usaha lainnya.

Karena hal itu penulis memutuskan untuk mencoba meneliti sampah untuk digunakan sebagai abu gosok. Agar dapat mengendalikan jumlah sampah yang ada di sekitar kita.


    1. Rumusan Masalah


  1. Bagaimana cara yang efisien dalam mendaur ulang serasah daun.

  2. Apa kegunaan serasah daun, selain sebagai pupuk kompos.

    1. Tujuan


  1. Mencari cara yang efisien dalam mendaur ulang serasah daun.

  2. Mendaur ulang serasah daun untuk digunakan dalam aktivitas manusia selain sebagai pupuk kompos.


    1. Hipotesis


Serasah daun tidak hanya digunakan sebagai pupuk kompos, tetapi juga bias digunakan sebagai abu gosok untuk membersihkan peralatan dapur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


    1. Pengertian Sampah

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.

2.2 Jenis-jenis sampah

Berdasarkan sumbernya

Sampah alam

Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.

Sampah manusia

Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

Sampah Konsumsi

Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.

Limbah radioaktif

Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).

  1. Berdasarkan sifatnya

  1. Sampah organik - dapat diurai (degradable)

  2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)

  1. Berdasarkan bentuknya

Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:

  1. Sampah Padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:

  1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.

  2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:

    • Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.

    • Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.

Sampah Cair

Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

  • Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.

  • Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.

Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi.

Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.


BAB III

METODE PENELITIAN


    1. Alat, Bahan, dan Lokasi Penelitian

  1. Alat

  1. Alat tulis.

  2. Korek api.

  3. Komputer.

  4. Sapu lidi.


  1. Bahan

  1. Daun kering ( serasah daun ).


  1. Lokasi Penelitian

Di Dusun Krajan, Desa Setail, Kecamatan Genteng.


    1. Rencana Penelitian dan Langkah Kerja

  1. Rencana Penelitian

Penulis melakukan penelitian dengan melakukan percobaan membakar serasah daun dan mengujinya sebagai abu gosok ( bahan untuk mencuci peralatan dapur ).


  1. Langkah Kerja

  1. Mencari lokasi yang tepat.

  2. Datang ke lokasi penelitian.

  3. Melakukan Penelitian dengan cara :

  1. Mengumpulkan serasah daun.

  2. Melakukan percobaan sederhana ( membakar serasah daun ).

  3. Mengambil abu hasil percobaan.

  4. Menguji hasil percobaan.

  5. Mencatat hasil percobaan.

  6. Menyusun laporan penelitian.

    1. Data

Dari penelitian yang penulis lakukan, data yang diperoleh sebagai berikut :


  1. Kondisi lingkungan :

  1. Terdapat banyak daun kering ( serasah ) yang belum dimanfaatkan.

  2. Daun kering ( serasah ) berasal dari pohan mangga.


  1. Hasil percobaan :

  1. Daun kering ( serasah ) yang dibakar selama 5 menit akan menghasilkan abu.

  2. Abu tersebut dapat digunakan sebagai abu gosok untuk mencuci peralatan dapur yang hangus, karena digunakan untuk memasak di atas api.


    1. Analisa Data


Berdasarkan hasil penelitian diatas, diperoleh informasi bahwa serasah daun tidak hanya bisa dijadikan sebagai pupuk kompos, tetapi juga dapat dijadikan sebagai abu gosok ( bahan untuk mencuci peralatan dapur ). Hal ini dapat dibuktikan dengan melakukan percobaan seperti yang penulis lakukan diatas.

BAB IV

PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa serasah daun tidak hanya bisa dijadikan sebagai pupuk kompos. Banyak manfaat dari serasah daun, antara lain sebagai hidropori, sebagai hiasan bingkai, sebagai abu gosok (bahan untuk mencuci peralatan dapur) dan lain-lain.

Pemanfaatan sampah serasah daun sebagai abu gosok, jarang sekali kita temui. Padahal abu yang dihasilkan dari pembakaran serasah daun dapat digunakan untuk mencuci peralatan dapur yang hangus. Kandungan karbon dalam sisa pembakaran serasah daun dapat mengangkat kotoran yang terdapat pada peralatan dapur, contohnya pada panci, wajan dan peralatan dapur lain yang digunakan untuk memasak.

Dalam pembuatan sampah serasah daun menjadi abu gosok bukan merupakan hal yang sulit. Cara untuk membuat abu gosok dari serasah daun yaitu;

  1. Kumpulkan serasah daun yang kering.

  2. Bakar serasah daun menggunakan korek api.

  3. Tunggu sampai sisa pembakaran tersebut dingin.

  4. Sisa pembakaran serasah daun siap digunakan.

Dengan abu gosok sederhana tersebut, dapat menghemat pengeluaran untuk membeli sabun cuci atau sejenisnya, karena pembuatannya yang mudah dan bahan utama untuk membuat abu gosok tersebut banyak tersedia di sekitar kita . Peralatan dapur pun akan menjadi bersih.

Pemanfaatan serasah daun yang di olah menjadi abu gosok dapat membantu dalam mengurangi volume sampah serasah daun yang terdapat di sekitar kita.



BAB V

PENUTUP

    1. Kesimpulan

  1. Cara yang efisien dalam mendaur ulang serasah daun, menurut saya adalah sebagai abu gosok, karena dalam pembuatannya, tidak membutuhkan waktu yang lama, dan dapat dimanfaatkan secara langsung.

  2. Kegunaan serasah daun, selain sebagai pupuk kompos adalah sebagai abu gosok yang sangat bermanfaat untuk membersihkan peralatan dapur yang hangus akibat selalu dipakai untuk memasak di atas api.

5.2 Saran

Untuk mengurangi sampah serasah daun, sebaiknya kita memanfaatkan serasah daun menjadi hal-hal yang lebih bermanfaat, antara lain sebagai abu gosok karena selain bermanfaat, juga dapat mengurangi keberadaan sampah disekitar kita.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar